Presiden Sukarno turun tangan merespon protes tersebut dengan mengatakan, “Jangan dengarkan asing! Kita memiliki kedaulatan modal yang harus dipertahankan dari serangan asing. Persetan dengan para cecunguk bedebah-asing. Amerika kita setrika, Inggris kita linggis!!!”
Urwatul Wusqa dari litersiislam.com, mengutip Buku Mafia Migas VS Pertamina , mengatakan bahwa dalam peresmian pembelian kapal tanker oleh Ibnu Sutowo pada 1960, Sukarno pernah berkata kepada Ibnu Sutowo, “Dunia akan bertekuk lutut kepada siapa yang memiliki minyak. Haiiii … joullie (kalian) tahu siapa yang punya minyak paling banyak, siapa yang mempunyai penduduk paing banyak … inilah bangsa Indonesia, Indonesia punya minyak, punya pasar. Jadi minyak itu dikuasai penuh oleh orang Indonesia untuk orang indonesia, lalu dari minyak kita ciptakan pasar-pasar dimana orang Indonesia menciptakan kemakmurannya sendiri.”
Semenjak itu, Sukarno merumuskan prinsip kedaulatan modal dalam mengelola pertambangan-pertambangan minyak bumi nasional. Prinsip kedaulatan modal adalah prinsip bahwa negara satu dengan negara lainnya harus saling menghormati. Negara yang menginginkan dirinya ada dan eksis, harus mengakui keberadaan negara lainnya yang juga ingin ada dan eksis seperti dirinya.
