“Ya walaupun enggak berhasil jadi wakil presiden juga ya gapapa. Mungkin dia juga berpikir, ya udah enggak jadi wakil presiden di zaman 2019 dulu. Tetapi dia tetap jadi presiden di bisnisnya dia tuh,” ungkapnya.
“Kita mungkin lupa, bahwa praktis mungkin untuk berkali-kali itu yang kita harus juga dikaitkan antara siasat bisnis dan kedudukan politik seseorang,” jelasnya.
Sebagaimana diketahui, Sandiaga sebelumnya hanya dikenal sebagai tokoh bisnis yang di kalangan bisnisman, kemudian dapat keuntungan dari posisi itu (menjadi politisi).
Saat diusung sebagai calon wakil presiden periode 2029-2024, Sandiaga juga diharapkan dapat membawa perubahan perbaikan ekonomi nasional ke depan.
“Jadi itu udah sinyal yang biasa itu walaupun akhirnya dia kalah kan bersama Prabowo. Dan tidak menutup kemungkinan Sandi saat ini mungkin menganggap bahwa dengan memiliki status sebagai calon wakil presiden dari Ganjar bakal berpengaruh ke market,” jelasnya.
“Dimana pasar tentu mulai menduga kalau dia menang, regulasinya lebih baik dong buat market kan dan itu yang saya anggap bahwa ya Sandi mungkin lebih baik buat market. Tapi buruk buat ide keadilan sosial dari Soekarno tuh (PDIP) yang menjadi partainya Ganjar,” ungkap Rocky Gerung.(Yudha Krastawan)

