Dalam kesempatan yang sama, Bahrul Ulum, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), mengatakan bahwa peradaban Islam klasik mencapai puncaknya ketika ilmu-ilmu ‘aqliyah (rasional) dikembangkan. “Karena itu, mahasiswa harus diperkenalkan bukan hanya ajaran dasar Islam namun juga pada khazanah intelektual,” katanya.
Hal tersebut dipertegas oleh Ammar Fauzi, pembicara kunci yang menekankan pentingnya para pelajar dan mahasiswa memiliki keterampilan berpikir. Menurutnya, peserta didik seyogianya memiliki kemampuan berpikir logis, rasional. “Karena itu, ilmu logika (mantiq) wajib dimasukan dalam kurikulum pendidikan tinggi, terutama agar daya literasinya kuat. Dengan daya literasi kuat, generasi baru bisa imun dari ragam hoax dan kritis”.
Selanjutnya Ammar Fauzi berpendapat, pendidikan Islam berorientasi pada bagaimana menjadikan manusia sebagai manusia-Tuhan, yakni manusia yang memiliki kemiripan dengan Yang Ilahi.
Narasumber yang lain, Tata S,. Purnama, dosen Pendidikan Agama Islam UAI memaparkan bahwa pada dasarnya pendidikan Islam berakar pada al-Quran dan diperkuatkan dengan filsafat. “Filsafat bisa jadi pondasi yang kokoh membangun teori pendidikan yang handal dan operatif. Namun, lagi-lagi, filsafat perlu ditopang oleh ilmu atau sains agar dapat diterapkan secara praktis.”
