Menurutnya, wajar jika Presiden meminta para penerima beasiswa LPDP tersebut untuk pulang dan berkarya di Tanah Air. Karena jika tidak, dikhawatirkan akan terjadi brain drain di Indonesia atau hengkangnya kaum intelektual lokal ke mancanegara.
“Ini bisa menciptakan brain drain, ketika di satu sisi, misalkan Pak Jokowi mendorong hilirisasi, mendorong teknologi digital, tapi siapa yang mengisi? Itu pertanyaannya. Kalau itu yang terjadi, khawatir, jangan salahkan ke depannya tenaga kerja asing yang akan mengisi semi skill, kemudian posisi high skill di dalam ekonomi Indonesia karena banyak yang pintar, misalnya, lebih banyak berkarier di luar negeri,” paparnya.
Indonesia ke depan, kata Bhima, harus benar-benar meningkatkan daya saingnya dengan mencetak SDM yang berkualitas karena ia melihat Indonesia saat ini terlalu terlena dengan SDA yang melimpah.
“Indonesia ini lihat saja dari indikator dari porsi ekspor manufaktur yang punya nilai tambah atau high technology itu kecil sekali, cuma di bawah 10 persen dari total produksi manufaktur. Manufaktur kita masih didominasi oleh olahan primer. misalnya sawit menjadi CPO (minyak sawit -red), itu sudah dicatat sebagai manufaktur, tapi yang high tech itu ketinggalan. Jadi komponen pentingnya adalah di SDM tadi,” jelasnya kepada voaindonesia.com.
