Ia tidak memungkiri bahwa pengembangan lahan pertanian pangan di luar Jawa kerap terkendala persoalan kesesuaian lahan. Karakter petani yang berbeda juga bisa menghadirkan tantangan tersendiri “Misalnya di Kalimantan Tengah kebanyakan adalah peladang, sehingga kalau dipaksa bertani secara intensif seperti di Jawa mereka tidak siap,” terangnya.
Ia memaparkan alternatif metode yang bisa dipilih, yaitu mengubah lahan kering menjadi lahan sawah dengan pembangunan irigasi dalam skala kecil dan membangun embung, atau mengubah pengelolaan lahan yang sudah ada agar lebih efektif dan efisien dengan berbagai inovasi dan teknologi tepat guna pertanian serta menghasilkan nilai tambah produksi yang lebih tinggi. Dalam skala kecil di desa, pemanfaatan dana desa untuk mendukung infrastruktur pertanian sangat prospektif.
Pengelolaan lahan pertanian bisa dilakukan melalui koperasi tani, kelompok tani, BUMDES atau kelembagaan lainya. Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengelolaan lahan, menurutnya tidak harus semua petani di desa terlibat langsung mengolah lahan. Sebagian dari mereka bisa masuk pada industri dan jasa pedesaan melalui aktivitas turunan dari pertanian seperti pengolahan hasil pangan, pengelolaan desa wisata, dan lainnya.
