Sejak kenaikan harga beras akhir Juli 2023 lalu, para pedagang Warteg sudah berupaya untuk menyiasati kenaikan harga dengan mengurangi porsi nasi untuk pembeli.
Siasat itu atas dasar pertimbangan khawatir pelanggan pergi bila pedagang Warteg menaikkan harga di saat daya beli masyarakat yang terpuruk, dan berharap harga beras dapat turun.
Namun setelah dinanti-nanti harga beras hingga kini tidak kunjung turun.
Harga tersebut memberatkan karena berdasar harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, beras medium untuk wilayah Jakarta seharusnya dijual maksimal Rp10.900.
“Warteg perlu terus memantau harga beras dan beradaptasi dengan perubahan pasar yang mungkin terjadi. Ini untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai keadaan,” kata Mukroni.
Para pedagang Warteg berharap harga beras dapat segera turun sehingga mereka tidak perlu menaikkan harga menu, sesuai citra Warteg sebagai tempat makan dengan harga terjangkau.
Tapi bila harga beras di pasaran tak kunjung turun dan bahkan melebihi HET hingga waktu lama, maka pedagang Warteg terpaksa menaikkan harga menu untuk pelanggan.

