Perempuan yang selamat dari terjangan tsunami itu mengungkapkan, tinggal di huntara dalam waktu lama beresiko terhadap kesehatan jiwa. Banyak penyintas yang stres karena tidak pernah ada kepastian apakah mereka benar-benar akan mendapat hunian tetap yang dibangun oleh pemerintah atau tidak. Belum lagi tekanan ekonomi untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dari pekerjaan yang tidak menentu.
“Adakah itu huntap atau tidak? Karena begini, di tempat kami itu sudah banyak yang mati. Bahkan sudah dua yang mati bunuh diri, ada yang minum racun, ada yang bergantung diri. Belum persoalan-persoalan yang lain seperti pelecehan seksual. Di sini kami memohon kepada pemerintah terkait, coba itu kalau tidak dikasih itu huntap kasih saja kami tanah. Nanti kita bangun sendiri itu pondok-pondok gampang sudah itu,” ujar Sri Tini yang sempat menjadi pemulung sampah plastik untuk menghidupi keluarganya.
Mohamad Syafari Firdaus, selaku Ketua Tim Monitoring Rehabilitasi Rekonstruksi Sulteng dari organisasi Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia (SKP-HAM) Sulteng, mengatakan dari total kebutuhan 8.399 unit, huntap yang telah tersedia per Agustus 2023 sebanyak 4.454 unit.
