Pembicara berikutnya Handi Risza menyatakan bahwa proyek ini awal mulanya digagas era Presiden SBY pada tahun 2009-2014, dengan melibatkan Japan International Corporation Agency (JICA) dalam studi kelayakan.
“Studi dilakukan untuk membangun kereta semi cepat Jakarta-Surabaya, dengan jarak sepanjang 748 km. Dengan biaya diperkirakan Rp100 triliun. Pada tahun 2015 pemerintah akhirnya memutuskan untuk membangun rute awal Kereta Cepat Jakarta-Bandung terlebih dahulu, sepanjang 150 km yang nilai awal proyeknya diperkirakan sebesar senilai Rp67 triliun,” jelasnya.
Menurut Handi yang juga Wakil Rektor Universitas Paramadina bahwa pada awalnya Jepang menawarkan pinjaman proyek kereta api cepat sebesar USD6,2 miliar dengan masa waktu 40 tahun dan tingkat bunga 0,1persen per tahun dengan masa tenggang 10 tahun. Dengan Syarat harus ada jaminan dari Pemerintah.
“Kemudian China menawarkan pinjaman proyek sebesar USD5,5 miliar dengan jangka waktu 50 tahun dan tingkat bunga dua persen per tahun. Skema Business to Business tanpa jaminan dari Pemerintah. Disinilah dilihat inkonsistensi pemerintah, sehingga mau tidak mau dibiayai oleh APBN,” bebernya.
