Walau hobinya kini sudah menjadi pekerjaan, untungnya Telisa yang multi-talenta di bidang seni masih bisa melakukan apa yang ia suka saat merasa jenuh.
“Saya terkadang bosan dengan kaligrafi, tapi karena saya bisa melukis, menggambar potret, saya dapat mengganti keahlian yang sata lakukan, jadi tidak pernah (merasa) bosan,” kata Telisa.
Ada kalanya pekerjaannya ini mendatangkan tantangan tersendiri, khususnya saat ia harus melakukan teknik kaligrafi tertentu.
“Kaligrafi di atas kayu dimana saya harus menggunakan (teknik) woodburning (pirografi.red), (teknik ini) memakan waktu yang lebih lama (yang membuat) tangan Anda lebih cepat capek,” jelasnya.
Bekerja sambil Mengajar
Selain melakoni bisnis kaligrafi, Telisa juga membuka kelas mengukir dengan menggunakan tangan dan melukis botol. Dua kelas daring yang bisa diakses kapan pun ini berhasil menarik perhatian banyak kaligrafer di seluruh dunia, khususnya di Amerika Serikat, Kanada, Eropa, dan Australia. Setiap kelas yang bisa diakses seumur hidup ini memakan biaya sebesar 495 dolar AS atau setara dengan 7,7 juta rupiah.
