“Kami mulai berpikir, apa yang bisa memberi dampak terbaik bagi negara. Kami menyimpulkan radioisotop sebagai salah satu prioritas terbaik, karena selama ini kami mengimpor sebagian besar radioisotop tersebut,” ungkapnya.
Menurut Topan jika Indonesia dapat memproduksi radioisotop sendiri, maka akan jauh lebih baik. BRIN harus merevitalisasi reaktor riset yang dimiliki sekarang, karena kondisinya sudah kurang maksimal. BRIN memiliki tiga reaktor riset dan akan merevitalisasinya untuk memproduksi radioisotop, karena 100% masih diimpor.
“Sebagian besar kami impor untuk medis dan beberapa untuk industri. Untuk medis kami mengimpor Teknesium, Iodium, kadang-kadang rumah sakit mengimpor Lutetium dari Australia,” pungkas Topan. (ahmad)

