Dia mengatakan masih banyak komoditas lain yang dilakukan hilirisasi seperti sektor pangan. Thailand, kata dia,dapat dijadikan rujukan mengenai kisah sukses program hilirisasi produk pangan ini.
Menurut Telisa, hilirisasi pada produk pangan memiliki banyak kelebihan. Kendati secara nilai kecil. Dia menilai hilirisasi di sektor makanan cenderung lebih berkelanjutan dibandingkan tambang. “Secara besaran tambang itu memang keliatan langsung gede. Kalau pangan kecil-kecil tapi sustain, kumulatif dan renewable,” kata dia.
Selain pangan, Telisa menilai hilirisasi juga dapat dilakukan pada produk-produk manufaktur Indonesia, seperti otomotif dan elektronik. Produk-produk farmasi dan petrokimia, kata dia, juga menjanjikan untuk dihilirisasi. “Butuh kajian lebih lanjut untuk memetakan potensi ini, itu tugasnya menteri-menteri yang sekarang untuk memetakan potensinya,” pungkas Telisa. (*)
