Pihak berwenang Beirut mengatakan, serangan tersebut menewaskan lebih dari 2.500 orang dan membuat lebih dari 1,2 juta orang mengungsi, sebagian besar dari mereka selama bulan lalu, sehingga menciptakan krisis kemanusiaan.
“Untuk wartawan yang tewas adalah operator kamera Ghassan Najjar, teknisi Mohamed Reda dari kantor berita pro-Iran Al-Mayadeen dan operator kamera Wissam Qassem, yang bekerja untuk Al-Manar milik Hizbullah,” kata kantor berita tersebut dalam pernyataan terpisah.
Mereka tinggal di kota selatan Hasbaya ketika kota itu diserang sekitar pukul 03.00 dini hari. Kota yang dihuni oleh umat Muslim dan Kristen tersebut, sebelumnya tidak pernah menjadi sasaran.
Serangan tersebut merupakan serangan Israel paling mematikan terhadap media di Lebanon sejak terjadinya permusuhan antara Israel dan Hizbullah lebih dari satu tahun lalu, dipicu oleh konflik di Gaza.
Namun Israel tidak berkomentar langsung, tetapi secara umum membantah menarget jurnalis dengan sengaja.
Sebegai informasi, lima jurnalis tewas dalam serangan Israel sebelumnya saat meliput konflik di Lebanon, termasuk jurnalis visual Reuters, Issam Abdallah, pada 13 Oktober 2023. Empat jurnalis lainnya juga tewas di rumah mereka pada bulan lalu, menurut Yayasan Samir Kassir, sebuah organisasi yang memperjuangkan kebebasan pers.
