“Tentu saja pencegahannya dengan nutrisi pada 1.000 hari pertama kehidupan, makanya keanekaragaman atau diversifikasi pangan lokal ini sangat bisa membantu untuk mengatasinya. Tentu dengan didukung pola hidup yang sehat, edukasi terutama pola makan bergizi, akses terhadap sanitasi, dan sebagainya,” katanya.
Ia mencontohkan, diversifikasi pangan lokal yang bisa diadaptasi seperti mengolah ikan menjadi nugget dengan sayuran seperti kelor, brokoli, dan bayam. Diversifikasi pangan lokal juga dapat dilakukan dengan mengintegrasikan produk inovasi pangan lokal ke dalam program gizi di posyandu dan sekolah.
Ia menambahkan, diversifikasi pangan memungkinkan pengembangan potensi lokal yang sesuai dengan kondisi geografis dan iklim setempat. Kemudian, pangan lokal dapat diolah menjadi makanan bergizi yang lebih diterima oleh budaya masyarakat dan tersedia di wilayah tersebut. Di samping itu, diversifikasi olahan pangan lokal sekaligus dapat menambah keterampilan dan nilai ekonomis.
Namun, ujar Sri, diversifikasi pangan lokal masih menghadapi kendala tantangan, yaitu belum berjalannya penganekaragaman konsumsi pangan dengan optimal. Hal ini diindikasikan dengan pola konsumsi masyarakat yang masih bergantung pada komoditas beras sebagai sumber karbohidrat.

