Sri mengatakan, masyarakat Indonesia umumnya mengonsumsi nasi lebih banyak dibandingkan komposisi gizi lainnya dalam satu piring. Ia mendorong masyarakat untuk menyeimbangkan kembali komposisi makanannya dan memilih alternatif karbohidrat lainnya seperti umbi-umbian. Ia juga mendorong orang tua untuk memperhatikan diversifikasi pangan pada anak-anak sejak dini.
Menurutnya, penerapan kaidah pangan B2SA (beragam, bergizi, seimbang, dan aman) dalam kehidupan sehari-hari juga merupakan kunci pencegahan stunting. Dalam kaidah B2SA, satu piring diisi dengan sepertiga makanan pokok, sepertiga sayuran, seperenam lauk-pauk, serta seperenam buah-buahan.
Indonesia, ujar Sri, merupakan negara kepulauan dengan masing-masing daerah memiliki kekhasan dan keanekaragaman sumber pangan. Ia pun mengajak masyarakat untuk memanfaatkan sumber pangan lokal apapun secara maksimal.
Merujuk pada hasil identifikasi Bapanas, ia menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi keanekaragaman hayati berupa 77 jenis sumber karbohidrat, 75 jenis sumber protein, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 26 jenis kacang-kacangan, hingga beragam jenis bahan minuman serta rempah dan bumbu.

