Ternyata apa yang aku alami ini dialami juga oleh anggota panitia HPN yang lain. Di sela-sela rakor, peserta rapat menceritakan pengalamannya. Bagian akomodasi dan transportasi, misalnya, selain harus menjawab pertanyaan peserta dari luar daerah dan para tamu di mana mereka akan menginap, transportasi apa yang akan membawanya, juga harus menjemput kapan saja mereka sampai.
Bidang seminar pun pontang-panting menjawab pertanyaan para nara sumber yang digeser jadwalnya. Semua ini membutuhkan jawaban logis dan menyakinkan.
Aku sendiri merasa kewalahan meladeni pertanyaan dan telepon. Telat membalas WA, telepon berdering. “Maaf Pak, infonya ditunggu pimpinan.”
Jujur, capek melayani pertanyaan dan permintaan konfirmasi. Namun aku senang dibuatnya, karena hal ini menunjukkan antusiasme pimpinan di banyak instansi terhadap HPN sangat tinggi.
Dalam kondisi yang menurut orang luar PWI pecah, terbelah, dan ada dualisme, perhatian dan perhatian terhadap HPN tidak kendor. Perhelatan HPN tetap menarik minat para petinggi di negeri ini, selain, tentunya insan pers di seluruh Nusantara.
