Ini harus menjadi catatan tersendiri bahwa HPN tidak terpengaruh oleh gejolak yang terjadi di tubuh PWI. Ketidakhadiran Presiden Prabowo Subianto tidak menyurutkan semangat anggota PWI dari 30 provinisi di Tanah Air, dari Sabang hingga Merauke, memadati tempat acara.
Kuatnya magnet HPN bisa jadi karena ia telah menjadi sebuah budaya di tengah masyarakat, tidak terbatas di kalangan pers saja, seperti didefiniskan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahwa budaya adalah pikiran, akal budi, adat istiadat, dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah.
Apalagi pada acara puncak ditampilkan tarian Limpuar dari pedalaman Kalimantan Selatan yang menceritakan tentang kegiatan bercocok tanam, tabuhan bedug oleh tokoh dan konstituen Dewan Pers dan paduan suara, menjadikan perayaan HPN 2025 sebuah Pesta Kebudayaan yang utuh.(*)
