Imron menyadari bahwa kebanyakan orang masih sulit menerima gagasan KHGT bukan karena kekurangannya, tetapi karena ketidaksiapan meninggalkan cara lama. Baginya, KHGT bukan sekadar soal perubahan teknis, melainkan sebuah langkah menuju persatuan yang lebih besar.
Di hadapan Agung, Imron harus bisa membuktikan bahwa sistem ini bukan hanya logis, tetapi juga sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
“Mron,” kata Agung, “memaksakan kalender global itu malah bertentangan sama ilmu pengetahuan. Bayangin, ada negara yang dipaksa masuk bulan baru padahal hilal belum wujud, bahkan masih di bawah ufuk. Atau ada negara lain yang harus nunggu besok biar seragam, padahal hilal udah keliatan kemarin. Hukum puasa Ramadan mereka gimana? Harusnya udah Idul Fitri, tapi gara-gara KHGT mereka masih puasa. Absurd, kan?”
“Gung, KHGT itu nggak asal maksa. Ada dua syarat fundamental yang memastikan keabsahannya. Pertama, suatu tempat nggak boleh ditunda masuk bulan baru kalau imkanu rukyat sudah terpenuhi di mana pun di bumi dengan kriteria tinggi: minimal hilal 5 derajat dan elongasi 8 derajat. Kedua, nggak boleh ada negara yang dipaksa masuk bulan baru kalau konjungsi belum terjadi.”