Anhar memaparkan, PLTN generasi I yang dibangun sekitar tahun 1954 merupakan prototipe awal yang digunakan untuk pengembangan nuklir damai dan belum bersifat komersial.
“PLTN generasi II sudah menggunakan teknologi baru, dengan pemanfaatan air sebagai pendingin dan moderator mulai dominan, dan bersifat komersial. Generasi II merupakan generasi keemasan PLTN,” ungkapnya.
Selanjutnya, PLTN generasi III dikembangkan dengan peningkatan daya, sistem keamanan, dan perbaikan sistem bahan bakar, serta penerapan sistem pasif yang memanfaatkan hukum alam. “Generasi IV lebih revolusioner dan fleksibel. Meskipun demikian, masih terbuka luas kesempatan untuk pengembangan riset,” jelas Anhar.
Anhar juga meyakinkan bahwa Indonesia perlu menyiapkan energi nuklir sebagai bagian dari rencana aksi mencapai sistem energi bersih atau ‘zero emission energy system’.
Hal ini dapat dicapai dengan menguasai teknologi, inovasi, dan penguatan sumber daya manusia. “Sinergi antara energi nuklir dan energi terbarukan akan memperkuat sistem green energy yang berperan dalam mengurangi dampak perubahan iklim,” tambahnya.
Poltek Nuklir: Perguruan Tinggi Vokasi Berbasis Riset
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Direktur Bidang Akademik Poltek Nuklir, Sutanto menyampaikan bahwa Poltek Nuklir sebagai perguruan tinggi vokasi berbasis riset terus berupaya untuk meningkatkan kualitasnya sesuai dengan Body of Knowledge (BoK) yang baru.
