“Kedua, kedaulatan energi dengan memenuhi kebutuhan energi sektor aviasi secara mandiri dengan memanfaatkan bahan baku domestik. Ketiga, penciptaan nilai ekonomi melalui hilirisasi bahan baku, penjualan SAF untuk pasar ekspor dan domestik, serta peningkatan investasi,” bebernya.
Dia menambahkan, akan tetapi saat ini produksi SAF di Indonesia masih bergantung pada jalur Hydro-processed Esters and Fatty Acids (HEFA), dengan menggunakan Palm Kernel Oil (PKO) sebagai bahan baku yang belum ramah lingkungan. Oleh karena itu Research and Development (RnD) terhadap berbagai jenis bahan baku untuk SAF dengan metode HEFA ini harus terus dilakukan.
“Pentingnya keberlanjutan dalam produksi SAF antara lain mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK), mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, mendorong ekonomi sirkular. Mengurangi polusi udara lokal, Mendukung pembangunan berkelanjutan, memenuhi regulasi dan tuntutan pasar,” paparnya.
Dirinya menegaskan, salah satu yang potensial dibicarakan saat ini adalah Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah dan Palm Fatty Acid Destillate (PFAD). Keduanya termasuk limbah sebagai bahan baku HEFA generasi berikutnya.
