IPOL.ID – Indonesia dikenal sebagai negara memiliki risiko tinggi terhadap bencana tsunami. Tidak hanya tsunami dipicu aktivitas gempa tektonik, tetapi juga tsunami disebabkan longsor bawah laut seperti terjadi di Palu pada 2018, serta akibat aktivitas vulkanik seperti peristiwa Krakatau di tahun yang sama.
Dua kejadian tersebut telah dijadikan pembelajaran bahwa sistem peringatan dini tsunami harus disiapkan untuk menghadapi berbagai jenis pemicu bencana tidak hanya dari satu sumber, tetapi dari berbagai kemungkinan dan faktor lainnya.
Belajar dari pengalaman tersebut, inisiatif untuk memperkuat sistem peringatan dini di bagian hulu dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat di bagian hilir telah dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia melalui kolaborasi antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Inisiatif itu kemudian diwujudkan oleh BMKG dengan pembangunan gedung sistem operasional InaTEWS BMKG di Bali, sebagai back up facilities yang pada Sabtu (14/6/2025) kemarin telah diresmikan.
