Pemerintah Inggris dan Amerika Serikat telah mengirim tim investigasi untuk membantu penyelidikan di India.
Tata Group, pemilik Air India menyatakan akan memberikan bantuan keuangan sebesar 10 juta rupee (sekitar Rp1,8 miliar) untuk keluarga korban, serta menanggung biaya pengobatan korban luka-luka.
India memiliki sejarah panjang kecelakaan udara. Salah satu yang terparah terjadi pada 1996 saat dua pesawat bertabrakan di udara, menewaskan hampir 350 orang.
Terkait penyebab kecelakaan kali ini, para ahli menyatakan terlalu dini untuk berspekulasi. Namun Jason Knight, dosen senior mekanika fluida di University of Portsmouth, menduga kemungkinan besar terjadi kegagalan mesin ganda, yang bisa jadi disebabkan oleh serangan burung (bird strike).
India, dengan populasi 1,4 miliar jiwa, kini merupakan pasar penerbangan keempat terbesar di dunia dan diprediksi akan menempati peringkat ketiga dalam dekade ini. Namun tragedi ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan industri harus diimbangi dengan keselamatan maksimal. (far)
