“Di Filipina, mereka mengundang DJ kelas dunia seperti Steve Aoki untuk tampil di acara berafiliasi dengan produsen rokok. Ini bukan hanya tentang promosi produk, tapi ini kampanye gaya hidup dan target utamanya adalah kami, generasi muda,” ungkap Judy.
Bagi Judy, keterlibatan figur budaya pop hanyalah puncak gunung es dari taktik industri untuk membangun citra bahwa rokok adalah bagian dari tren, bukan ancaman.
Gambaran itu terasa begitu dekat dengan realitas di Indonesia. Nadhir Wardhana Salama dari Beyond Health Indonesia menegaskan bahwa taktik industri rokok tidak hanya menyusup ke gaya hidup, tetapi juga menembus ruang-ruang kebijakan publik yang seharusnya steril dari pengaruh korporasi.
“Intervensi industri rokok di Indonesia masih sangat tinggi. Menurut laporan Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (RUKKI) mencapai poin 84. Bayangkan, pasal pengendalian tembakau pernah hilang dari Undang-Undang (UU) Kesehatan di tahun 2009. Bahkan, kami melihat langsung bagaimana pejabat bisa terafiliasi dengan industri ini,” jelas Nadhir.
