“Mereka bahkan menyumbang ke rumah sakit saat pandemi, bukan karena peduli, tapi karena tahu citra baik bisa menjadi alat lobi paling kuat,” tukas Nhài.
Nhài menekankan pentingnya membangun sistem tangguh yang bisa mengenali dan menolak intervensi industri sejak awal. Dia mendorong agar pasal 5.3 Konvensi FCTC diintegrasikan ke strategi antikorupsi nasional. Agar kesadaran lintas sektor seperti jurnalis, pejabat, hingga masyarakat terus diperkuat.
Salah satu momen paling menyentuh datang dari peserta termuda dalam diskusi ini, berinisial MJ, seorang siswa sekolah dasar berusia 11 tahun dari Indonesia. Meski masih belia, MJ mengikuti jalannya diskusi dengan penuh perhatian dan akhirnya menyampaikan pernyataan sederhana namun sangat mengena.
“Saya berharap pemerintah bisa lebih melindungi saya dan teman-teman dari asap rokok, supaya kami bisa bermain di luar dengan aman,” ujar MJ.
Pernyataan dia menjadi pengingat kuat bahwa perjuangan ini bukan sekadar soal regulasi atau strategi komunikasi. Ini tentang masa depan anak-anak seperti dia tentang hak setiap anak untuk tumbuh sehat dan aman dari paparan asap rokok.
