Menurut Kholisina, kejadian yang kemudian viral tersebut terjadi usai kegiatan tasyakuran pelepasan siswa. Ironisnya, kegiatan tersebut bukan bagian dari acara resmi sekolah, melainkan diinisiasi oleh paguyuban wali murid dan digelar di ruang kelas.
“Guru-guru diundang juga di kelas itu tapi hanya mengalungkan kalung apa itu dan potong tumpeng. Setelah itu anak-anak foto bersama keluarga, para guru keluar dari lokasi itu ke ruang guru,” ungkapnya.
Kepala SD Negeri 1 Kenayan, Admim Kholisina, menyayangkan aksi yang dinilai kurang pantas dilakukan anak-anak tersebut. Ia mengaku pihak sekolah kecolongan karena tidak mengetahui secara detail acara yang digelar usai perpisahan.
“Kegiatan itu murni inisiatif paguyuban wali murid dan di luar pantauan sekolah. Kami sangat menyayangkan adanya joget dan saweran tersebut,” ujarnya.
Menurut Kholisina, atas kejadian tersebut pihak paguyuban wali murid telah menyampaikan permintaan maaf, baik secara lisan maupun tertulis kepada pihak sekolah.
Ia menegaskan bahwa nantinya, sekolah akan lebih berhati-hati dan melakukan evaluasi terhadap setiap kegiatan yang melibatkan wali murid.
