Lebih jauh Rizky menjelaskan perbedaan teknik pelatihan kali ini dengan sesi sebelumnya di kecamatan lain.
“Jika sebelumnya fokus pada teknik pengecoran epoxy, sekarang kita fokus pada coating atau pelapisan lapisan atas. Dirtypouring sendiri berasal dari istilah ‘dirty’ yang artinya ‘jorok’, tapi di sini justru menjadi teknik yang menghasilkan karya indah dari tampilan yang tampak acak dan berantakan,’ jelasnya lagi.
Trainer Agus Rudy menambahkan, teknik Dirtypouring ini mengandalkan perpaduan warna yang dituangkan tanpa perlu diaduk terlalu banyak, sehingga menciptakan pola natural seperti ombak atau batu marmer.
‘Setiap hasil karya memiliki keunikan tersendiri,” terang Agus Rudy penuh semangat.
Peserta pelatihan kali ini didominasi oleh warga sekitar yang menunjukkan antusiasme tinggi, termasuk kelompok usia yang lebih tua.
“Awalnya memang sedikit yang tertarik, tapi berkat informasi yang menyebar dan dukungan dari pelatihan sebelumnya, sekarang warga semakin antusias untuk belajar dan mengembangkan kreativitas mereka,” ujar Rizky menambahkan.

