Cara head coach & asisten seperti ini tentunya sangat tidak baik dan potret ini bisa di kategori kan bisa merusak Karakter anak bangsa yang lahir & besar di tanah air yang memiliki kemampuan & potensi dan mampu bersaing. Seharusnya bisa diberikan kesempatan yg cukup untuk membuktikan talentanya untuk membela merah putih. Materi pemain masih perlu dianalisa dan evaluasi baik naturalisasi ataupun pemain Indonesia asli. Apalagi beberapa pemain inti sebelumnya mengalami cidera.
Mantan Pemain Timnas Gunawan Dwi Cahyo mengatakan harusnya pemanggilan pemain abroad harus sesuai prosedure atau memlalui head scouting. Pasalnya, kalau pemanggilan melalui agent tentu hasilnya tidak sesuai.
” Harus PSSI harus lebih banyak kompetisi dan merekrut pemain-pemain yang berkualitas dari kompetsisi di negeri sendiri. Toh, pada kenyataannya pemain-pemain muda diaspora ini juga tidak terlalu istimewa di banding pemain- kita,” ujar Gunawan saat dihubungi awal media, Senin (21/7).
“Karna agent kan hanya mencari keuntungan, bukan ingin mengangkat prestasi sepakbola indonesia. Jadi buat apa kita ambil pemain yg kualitasnya sama dengan pemain lokal kita,” tambahnya.
Gunawan mengaku setuju awal merekrut pemain-pemain diaspora di kelompok umur, tapi kedepan ini juga harus menjadi catatan federasi kalo kompetisi usia muda harus diperbanyak lagi, agar para pemain muda mempunyai jam terbang yang cukup berkualitas.” Mau sampai kapan kita pake cara-cara instan seperti ini di sepak bola usia muda/Kelompok umur,” papar Gunawan.
Sementara mantan pemain timnas lainnya, Ismed Sofyan mengatakan taimnas U-17 tak perlu memakai pemain
pemain naturalisasi. Sebab, pemain-pemain lokal juga sangat baik. ” Level permainannya gak jauh beda, sebenarnya kita memliki pemain-pemain potensial, tapi mereka tidak tersentuh oleh para scouting. Kita juga punya kompetisi EPA, kita punya Kompetisi Suratin dan Pemain-pemain diklat Ragunan. Sebenarnya source nya juga banyak,” ujar Ismed Sofyan.
