Yayat juga menegaskan pentingnya menyasar generasi produktif berusia 25 hingga 40 tahun, seperti generasi Z dan milenial, sebagai penerima manfaat utama dari program ini.
“Kalau orang tua itu susah didorong pindah ke rusun. Makanya kelompok-kelompok usia produktif itu harus lebih diprioritaskan untuk mendapatkan rumah susun,” ujar Yayat.
Lebih dari sekadar pembangunan fisik, Yayat menilai program revitalisasi ini juga merupakan upaya penataan budaya masyarakat perkotaan. Transformasi gaya hidup dan pola pikir menjadi kunci agar Jakarta bisa bertransformasi menjadi kota kelas dunia.
“Jakarta tidak akan pernah jadi kota global kalau warganya tidak berubah,” tegas Yayat.
Ia juga menyoroti peran strategis Perumnas dalam proyek ini. Menurutnya, Perumnas memiliki rekam jejak panjang dalam menyediakan hunian terjangkau di kawasan seperti Depok dan Bekasi.
“Sudahlah, urusan Rusunami beri bantuan kepada Perumnas melalui kerja sama Himbara agar bisa mengembalikan kejayaan Perumnas seperti era 70-an,” kata Yayat.
