“Harus diakui kontribusi itu belum sepenuhnya mendapatkan tempat dalam kebijakan kebudayaan di Provinsi Jakarta hari ini,” bebernya.
Disamping itu, yang juga amat disesalkan anggota DPRD DKI yang terpilih dari dapil Jakpus tersebut belum adanya agenda resmi yang mengakomodasi budaya Minang. “Ditambah kurangnya ruang representasi di ruang publik dan festival kota,” imbuhnya.
Padahal, kata anggota Komisi E DPRD DKI itu, Jakarta bukan hanya milik satu etnis atau satu identitas kultural.
Sebagai ibu kota negara, sambung dia Jakarta telah menjadi ruang hidup bagi hampir seluruh kelompok budaya di Indonesia. “Disinilah budaya-budaya Nusantara bertemu, berdialog, dan berkontribusi pada wajah Jakarta hari ini. Wajah yang heterogen, kompetitif namun tetap dalam semangat persatuan dan kesatuan,” tegas politisi berdarah Minang itu.
Staf khusus gubernur DKI Jakarta, Chiko Hakim yang juga hadir dalam seminar tersebut memastikan kedepan Pemprov DKI Jakarta akan mendukung langkah pelestarian budaya Minang di Jakarta.
