“Semua ini terjadi karena kita tidak punya event nasional dan tidak adanya pengiriman petinju Indonesia di ajang event internasional. Seingat saya hanya ada kejurnas tinju pada tahun 2022 dan Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut 2024. Fakta ini saya harus ungkap dan tidak perlu ditutupi agar ke depan pembinaan tinju amatir bisa lebih baik lagi,” tegas Ballo, panggilan karibnya.
Apa yang diungkapkan Ballo juga diamini Ucok Sitompul. “Ya itu memang fakta.
Dulu petinju Indonesia mampu berprestasi dan bisa menembus ke Olimpiade karena memang jadwal pertandingan tinju nasional banyak dan juga pengiriman tim tinju ke berbagai event internasional serta melakukan Trainning Camp (TC) di luar negeri. Jam terbang itu menjadi syarat untuk bisa mencetak petinju berkualitas dan mampu meraih prestasi di ajang internasional,” tandasnya.
Sementara itu, pelatih asal Thailand Khamanit Nareerakst yang juga anggota Talent Scouting mengatakan, petinju Indonesia punya potensi untuk bisa meraih prestasi di ajang internasional. Hanya saja, kata pelatih yang mengantarkan Tim Tinju DKI Jakarta sukses meraih 4 emas dan 2 perak pada PON Aceh-Sumut 2024, perlu program pembinaan jangka panjang dan harus diterjunkan di berbagai event internasional.
