Namun, hadirnya fenomena ini dianggap cukup memengaruhi omzet pedagang dan pelaku usaha di pusat perbelanjaan. Meski jumlah pengunjung tampak tinggi, angka penjualan tidak selalu sebanding karena banyak yang sekadar hadir tanpa belanja.
Dengan demikian, istilah seperti Rojali dan Rohana mungkin terdengar ringan dan jenaka, tetapi sesungguhnya mencerminkan realitas sosial yang menarik untuk diperhatikan.
Hadirnya fenomena ini menjadi penanda akan perubahan perilaku konsumen yang patut dicermati secara serius oleh pelaku usaha dan pemerhati sosial. Memahami tren semacam ini dapat membantu dalam merancang strategi pelayanan dan komunikasi yang lebih relevan dengan kebiasaan konsumen masa kini.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, bahwa pada 2025 ini omzet sejumlah mall sedang menurun, padahal tahun 2025 ini ia menargetkan omzet mall bisa meningkat sebanyak 20 hingga 30 persen. Akan tetapi, diprediksi omzet hanya bisa bertumbuh sekitar 10 persen saja jika menilik pada keadaan ekonomi saat ini.
