“Dengan kolaborasi lintas lembaga ini, kami berharap perusahaan semakin memahami bahwa perekrutan penyandang disabilitas bukan beban, melainkan investasi sosial dan produktivitas jangka panjang,” kata Mu’minati.
Peserta workshop juga mendapatkan materi mengenai pemahaman ragam disabilitas, kerangka regulasi, kewajiban perusahaan, serta strategi rekrutmen inklusif yang dipandu Parakerja, sebuah startup pemberdayaan disabilitas. Dalam sesi tersebut ditampilkan cuplikan pelatihan hingga proses penyaluran tenaga kerja disabilitas ke berbagai perusahaan.
Bahkan, peserta dilibatkan dalam role play untuk merasakan pengalaman langsung berinteraksi dengan penyandang disabilitas. “Metode ini kami pilih agar perusahaan mampu memahami tantangan nyata di lapangan sekaligus mengasah empati dalam memperlakukan calon pekerja disabilitas,” ujar Mu’minati.
Selain itu, peserta juga mengikuti kelas bahasa isyarat dasar yang diajarkan oleh tutor tuli. Kelas ini memberikan bekal komunikasi sederhana, seperti salam, perkenalan, hingga percakapan ringan dengan kandidat disabilitas.
