Reni meyakini, Gen Z yang juga akrab dengan teknologi dan media visual serta senang berbagi juga akan sangat mendukung perkembangan industri batik. Apalagi, generasi ini cocok dijadikan target bagi para perajin batik dengan motif yang modern dan peka terhadap selera atau tren masa kini.
“Ini pasar potensial, sebab Gen Z kalau sudah cinta dan peduli dengan brand atau produk batik tertentu, besar kemungkinan mereka akan aktif memviralkan batik tersebut, baik melalui media sosial maupun word of mouth,” jelasnya.
Dengan karakter pasar tersebut, lanjut Reni, brand awareness IKM batik pun akan terbentuk semakin positif, pasar akan semakin meluas, penjualan meningkat, hingga diharapkan dapat berkontribusi dalam pelestarian dan perkembangan industri batik secara umum.
Oleh sebab itu, Ditjen IKMA bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia (YBI) terus mendampingi pelaku IKM batik untuk semakin adaptif melihat tren pasar dan memahami target konsumen mereka.
Upaya yang telah direalisasikan misalnya, Ditjen IKMA bersama Yayasan Batik Indonesia menggelar kegiatan webinar bertajuk “Batik Untuk Gen Z: Tradisi Menjawab Tren” pada 24 Juli 2025 secara daring. Webinar ini diisi oleh para narasumber dari berbagai kalangan, di antaranya Fashion Design Program Director LaSalle College Jakarta Shinta Lidwina Djiwatampu, Founder IKM Batik Shibotik Putri Urfanny Nadhiroh, dan Founder IKM Batik Gitaratna, Gita Ratna.
