“Mereka ada adegan jalan kan. Nah mereka belinya aset street of Mumbai. Aneh banget kan makanya jalannya,” kata Yono, dikutip pada Senin (11/8/2025).
Nampak penggunaan aset siap pakai tanpa penyesuaian yang memadai membuat film ini minim nuansa lokal dan terasa aneh secara keseluruhan. Para warganet menilai bahwa selera artistik animatornya kurang, sehingga semakin memperkuat kesan buruk atau tidak cocok pada film tersrbut.
“Dana bikin nih film sebesar Rp. 7,6 miliar cuman hasil film nya kek hasil dana Rp 2 juta doang,” ucap @ak***.
“Pake 2D saja daripada memaksa 3D tapi hasil jelek. Apakah program animasi unreal engine belum dikuasai?,” kata @ba***.
“Pantes sponsornya pemerintah bukannya gandeng animator di Indonesia yang udah profesional malah di isi orang ga kompeten. Hasilnya aja kalah sama anak SMA yang sekolah animator,” tegas @ro***.
“Gua masih ketawa ngakak yang harusnya suara burung malah suara monyet,” ucap @on***.
“Dana Rp 6,7 miliar. Jatah pejabat Rp2 miliar, jatah yang punya SPK Rp4,6 miliar, Rp 100 juta kasih pimpro, sampe ke animator magang Rp 20 juta,” ungkap @ce***.
