“Kuantitasnya nanti dari 25 mahasiswa akan mengerucut tersaring lagi menjadi 5 orang untuk bekerja ke Jepang,” ungkap Ade Maman pada awak media, Senin.
Lebih lanjut, Rektor Unsika, Ade Maman menjelaskan, nantinya untuk pengiriman tenaga kerja asal Indonesia yang teredukasi ini membutuhkan kehati-hatian. Dalam artian secara prosedural dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kami memberikan penekanan agar ada perlindungan yang memadai dapat diberikan kepada lima orang tenaga kerja terpilih untuk bekerja ke Jepang,” imbuhnya.
Kepada para peserta yang nantinya terpilih, lanjut Ade Maman, juga harus bisa menyesuaikan budaya lokal custom dan lokal cultur yang ada di Jepang.
“Inilah salah satu tujuan Daito Class untuk dapat mengenalkan budaya, baik secara negara dan korporasi kepada 5 orang mahasiswa terpilih. Sisanya bisa juga mungkin disalurkan atau melamar di perusahaan Jepang yang teraviliasi dengan perusahaan Jepang dan sebagainya,” ungkapnya.
Singkat kata, sambung dia, hal ini merupakan sertifikat pendamping ijazah. Jadi ada ijazah suplemen yang diterima peserta, tidak hanya mengikuti kuliah secara reguler, praktikum, tetapi juga sudah ada surat keterangan dari pihak berkompeten dan berwenang, dalam hal ini korporasi yang membutuhkan.
