“Toh mereka studi ujungnya untuk melanjutkan ke jenjang pekerjaan, mengaktualisasikan ilmunya ke perusahaan,” tukasnya.
Kegiatan itu tidak terlepas dari dukungan Kemendiktisaintek, bidang akademik, penelitian dan agar mereka bisa diterima dunia industri, usaha dan pendidikan.
Lalu kenapa Jepang? Rektor Unsika, Ade Maman menambahkan, kerja sama ini tidak datang dan terjadi tiba-tiba, melainkan sudah ada hubungan formal dan informal satu sama lain. Kemudian ditingkatkan dengan teman kolega dari Negeri Sakura, dengan perusahaan besar asal Jepang, Daito Construction dan PT Satria Jaya Internasional.
“Dengan fasilitas yang ada ini bisa dilanjutkan hingga pengukuhan dan meresmikan bahwa program Daito Construcrion Class ini bisa segera dimulai”.
Perusahaan Daito Construction pun sudah membantu mengirimkan sejumlah peralatan dan dokumen maupun materi ajar terkait bahan-bahan yang akan disampaikan kepada para peserta (Mahasiswa).
“Dan itu gratis tanpa harus membayar”.
Salah satu internasionalisasi kampus dalam artian setelah lulus mereka bisa disalurkan ke perusahaan nasional dan multinasional. Dalam bentuk lain, pihak Unsika juga sudah menyelenggarakan, menjalankan program yang sama bersama beberapa negara lainnya, seperti Uzbekistan, ASEAN, Malaysia dan Thailand.
