“RUPTL 2025–2034 yang kami keluarkan menargetkan 76 persen tambahan kapasitas berasal dari energi terbarukan, termasuk energy storage. Namun, pertanyaannya bukan lagi
apa yang harus dilakukan, tetapi bagaimana mengeksekusinya bersama-sama. PLN tidak
bisa berjalan sendiri, peran aktif swasta mutlak diperlukan,” tegas Nurlely.
RUPTL terbaru menempatkan Independent Power Producer (IPP) sebagai penyumbang dana lebih dari 70 persen. Untuk merealisasikannya, PLN mengandalkan kolaborasi
internasional serta skema pembiayaan hijau, termasuk transition financing yang tengah digodok.
Kebutuhan Energi Besar
Dari sisi pelaku usaha, CEO Bosowa Corporindo, Subhan Aksa menyoroti kebutuhan energi rendah emisi di wilayah Indonesia timur. Menurutnya, pertumbuhan konsumsi energi di
Sulawesi Selatan mencapai sembilan persen per tahun. Namun, perubahan iklim menimbulkan tantangan besar.
“Pada 2023, kekeringan ekstrem menyebabkan shortage besar pada PLTA sehingga beberapa industri harus dikorbankan. Renewable bukan sekadar beban, tetapi peluang. Namun tanpa dukungan regulasi dan pemerintah, swasta tidak akan berhasil. Kami ingin
menjadi mitra pemerintah untuk pemerataan energi di Indonesia timur,” jelas Subhan.
