“Delapan puluh satu persen wilayah Indonesia rawan bencana gempa,” terang Suharyanto di hadapan tamu undangan dan peserta pembukaan 3rd ICDMM, berlangsung di Universitas Andalas, Kota Padang, Sumbar, Senin (29/9/2025).
Menurut Suharyanto, kondisi tersebut mendorong perlunya upaya mitigasi yang berbasis bukti ilmiah. Di sisi lain, upaya riset juga harus dilakukan secara kolaboratif dan adatif melibatkan unsur pentaheliks.
Pada kesempatan itu, Kepala BNPB juga menyampaikan tiga poin terkait dengan mitigasi berbasis riset. Pertama, penguatan riset kebumian untuk pemetaan risiko yang lebih detail.
“BNPB telah menggunakan hasil riset dari BRIN dan universitas untuk memetakan zona megathrust yang dijadikan dasar dalam menyusun peta evakuasi detail untuk 182 desa rawan tsunami di Indonesia,” kata Suharyanto.
Lebih lanjut, Kepala BNPB menjelaskan, di tingkat pusat BNPB telah bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk memetakan zona megathrust. BNPB belajar dari pengalaman gempa dan tsunami Jepang pada 2011. Bangunan tahan terhadap gempa tetapi rusak terhadap terjangan tsunami.
