Mereka juga mengkritik pernyataan Penasihat Khusus Presiden, Wiranto, yang menyebut tuntutan itu akan merepotkan. BEM UI menilai ucapan Wiranto menunjukkan ketidakmampuan sebagai orang dekat Presiden.
“Kemudian ada dari Jenderal Wiranto saya kemarin baca, jika semua dipenuhi repot. Nggak usah bernegara, pak kalau repot, banyak orang yang lebih kompeten dari anda,” cetusnya.
Selain itu, massa juga menuntut agar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dicopot dan diganti dengan sosok yang lebih kompeten dan mengedepankan nilai kemanusiaan.
“Yang paling dekat sebenarnya Kapolri dulu, kita minta untuk dicabut, diturunkan,” kata dia.
“Ganti dengan orang yang lebih kompeten, ganti dengan orang yang lebih memiliki rasa kemanusiaan,” lanjutnya.
Setelah pernyataannya viral dan memicu demonstrasi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya angkat bicara.
Ia menyampaikan permintaan maaf dan mengakui adanya kekeliruan ucapannya terkait tuntutan 17+8.
“Kalau kemarin salah ngomong, saya minta maaf,” ujarnya.
