Para komentator Israel juga menggambarkan kehadiran Turki di Mediterania timur sebagai “ancaman” dan perannya dalam membangun kembali Suriah pascaperang sebagai “ancaman baru yang meningkat”.
Dengan meningkatnya agresi regional Israel dan perangnya di Gaza yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan membalas pada bulan Agustus dengan menangguhkan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan Israel.
“Di Ankara, retorika (anti-Turki) ini ditanggapi serius, dengan Israel dipandang mencari hegemoni regional,” ujar Omer Ozkizilcik, peneliti non-residen di Atlantic Council, kepada Al Jazeera, Senin (22/9/2025).
“Turki semakin merasa bahwa agresi Israel tidak memiliki batas dan menikmati dukungan Amerika,” tambah Ozkizilcik.
Serangan terhadap Qatar juga kemungkinan menggarisbawahi keraguan Ankara tentang jaminan keamanan AS sebagai sekutu NATO. Meskipun Doha berstatus sekutu khusus bagi Washington, Israel tidak menghadapi perlawanan yang nyata dari AS, yang menimbulkan pertanyaan apakah AS benar-benar akan menganggap serangan apa pun terhadap Turki sebagai serangan terhadap dirinya sendiri, sebagaimana diamanatkan dalam piagam NATO.
