“Sudah tidak bisa bertahan konsesinya, satu hari pendapatan Rp400 ribu, tenan lain ada yang hanya Rp 43 ribu untuk satu hari pemasukannya. Merugi iya, belum lagi bayar sewa kan”.
Tak ayal, pemilik usaha restoran di Bandara Halim Perdana Kusuma sampai harus melakukan pengurangan karyawan. Mereka mengakali dengan membagi shift kerja, yang biasanya 4 karyawan menjadi 2 orang.
“Tenan ini saja yang tadinya 9 karyawan sekarang tinggal 5 karyawan saja”.
Menurutnya, adanya pemberitahuan lonjakan manifest yang dikirimkan oleh pengelola ke pengusaha resto tidak valid. Karena hal itu bisa dilihat, semisal sekali turun penumpang pesawat tidak ada orangnya yang mampir untuk ke tenan. Baik di dalam maupun masih di area bandara.
Sebelumnya alasan karena VIP tetapi, menurut dia lagi, hal itu tidak ada masalah dan atau tidak ada pengaruhnya ke tenan yang masih di area bandara itu.
“Sekarang calon penumpang boarding langsung masuk, terus kalau di kedatangan mereka langsung keluar jalan kaki keluar bandara, dari pada naik taksi di dalam bandara,” bebernya.
