Dengan demikian, perbankan akan terdorong untuk memutar uang tersebut demi memperoleh keuntungan, yang pada akhirnya akan menstimulasi pertumbuhan kredit dan menciptakan lapangan kerja baru.
“Saya taruh di bank saja dalam bentuk rekening pemerintah di bank. Saya enggak ada apa-apa, jaminan uang saja. Tapi kan bank enggak akan mendiamkan uang itu, itu ada cost-nya. Dia akan terpaksa mencari return yang lebih tinggi dari cost-nya,” ujarnya.
“Di situlah mulai pertumbuhan kredit tumbuh. Jadi, saya memaksa market mekanisme berjalan dengan memberi senjata ke mereka. Jadi, memaksa perbankan berpikir lebih keras untuk bekerja supaya dapat return yang tinggi,” imbuhnya.
Bank Indonesia juga diminta untuk tidak kembali menyerap dana yang dipindahkan pemerintah tersebut. Ia berharap BI mendukung penuh strategi fiskal yang ditempuh Kementerian Keuangan.
Ia yakin, upaya ini akan berhasil menghidupkan kembali ekonomi Indonesia, dan jika berhasil, langkah ini akan direplikasi.
Pengendapan uang, kata dia, pernah terjadi pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, di mana pertumbuhan uang beredar (M0) hanya di kisaran 7 persen, bahkan pernah tidak tumbuh sama sekali dalam dua tahun.
