Tantangan lainnya, usia jaringan pipa yang menua. Hal itu pun disebut menjadi pekerjaan berat. Tercatat 70 persen pipa berusia 25-40 tahun, sebagian besar bukan food grade, rawan kebocoran, dan memicu tingginya non-revenue water (NRW). “Akibat kebocoran itu kerugian diperkirakan mencapai Rp1 triliun per tahun,” katanya.
Untuk menutup celah itu, PAM Jaya mempercepat inovasi. Empat instalasi pengolahan air (IPA) baru disiapkan di Semanan, Muara Karang, Condet, dan Kanal Banjir Barat 2. Teknologi water purifier juga diluncurkan agar air perpipaan tetap layak minum meski melewati pipa lama.
“Air perpipaan PAM hanya Rp1 per liter, sangat murah dibanding air kemasan. Kami ingin masyarakat beralih,” tegasnya.
Lebih lanjut, Arief menuturkan, transformasi digital juga digenjot. PAM Jaya telah meluncurkan super apps, menerapkan smart water meter digital pada 49 ribu pelanggan, hingga membangun mobil laboratorium mikrobiologi untuk uji kualitas air secara cepat di lapangan.
“PAM Jaya tidak mengambil air tanah, hanya mengolah air permukaan. Kami bekerja siang malam untuk mengakhiri ketergantungan warga pada air galon dan gerobak. Target 2029 harus tercapai,” katanya.
