Tidak hanya Ka, sang kakak Aa juga mengalami gejala serupa. Dari hasil wawancara dengan keluarga dan observasi tim medis, ditemukan bahwa Aa turut terinfeksi dengan gumpalan cacing di perutnya. “Setelah kami wawancara pihak keluarga, observasi Aa yang merupakan kakak Ka diketahui bahwa Aa juga sama seperti Ka, ada gumpalan cacing di perutnya,” jelas Eva. Aa kemudian dirujuk ke RS Ummi Bengkulu untuk menjalani operasi.
Kasus yang menimpa kakak beradik ini dinilai sebagai contoh nyata lemahnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup bersih dan sehat. Eva menegaskan bahwa infeksi cacing gelang biasanya disebabkan oleh kebiasaan anak-anak bermain di tanah tanpa alas kaki, jarang mencuci tangan, serta minimnya perhatian terhadap kebersihan tubuh.
“Telur cacing menempel di tangan lalu masuk ke mulut, berkembang biak di perut hingga menjadi banyak seperti ini. Bahkan kuku anak-anak biasanya kotor penuh tanah,” katanya.
Menurutnya, pencegahan sederhana seperti membiasakan anak memakai alas kaki saat bermain, mencuci tangan sebelum makan, dan menjaga kebersihan kuku dapat mengurangi risiko cacingan. Selain itu, pemberian obat cacing secara berkala setiap enam bulan hingga setahun sekali juga sangat penting.
