Petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang mendatangi sekolah dan memeriksa kondisi makanan MBG. Hasil pengecekan menemukan bahwa nasi memang sudah tidak layak konsumsi. Meski tidak berbau menyengat, tekstur lembek dan berlendir berpotensi membahayakan kesehatan siswa.
Pihak penyedia makanan, SPPG Mondoteko, mengaku menyesalkan kejadian tersebut. Mereka menyebut nasi memang agak lembek namun membantah bahwa makanan berbahaya bila dikonsumsi. “Kami akan evaluasi agar kejadian ini tidak terulang. Ini akan menjadi PR besar bagi kami,” kata perwakilan SPPG.
Badan Gizi Nasional (BGN), sebagai instansi pembina program MBG, menyatakan menghormati langkah SMPN 5 Rembang yang mengembalikan makanan. BGN menegaskan akan mengawal perbaikan kualitas agar insiden serupa tidak kembali terjadi.
Program MBG yang diluncurkan pemerintah sejak awal 2025 memang menyedot perhatian publik. Dengan anggaran mencapai Rp1,2 triliun per hari untuk melayani sekitar 82,9 juta penerima, program ini disebut sebagai salah satu proyek sosial terbesar di Indonesia.
