Ia menegaskan bahwa etanol yang digunakan Pertamina seluruhnya berasal dari pasokan dalam negeri, terutama dari hasil olahan molase tebu.
Selain meningkatkan efisiensi, campuran etanol juga mampu menaikkan kualitas bahan bakar, terbukti dari peningkatan angka oktan (RON) dari 92 menjadi 108.
“Ya kan makin bagus untuk mesin, RON-nya makin tinggi,” kata Eniya.
Pertamina, lanjutnya, sudah memiliki fasilitas blending etanol hingga 20 persen di Terminal BBM Plumpang, Jakarta Utara. “Saya pernah lihat langsung di Plumpang, sudah ada kemampuan blending sampai 20 persen. Pipanya juga sudah disiapkan,” imbuhnya.
Pemerintah menargetkan penggunaan bioetanol meningkat secara bertahap, seiring dengan peningkatan produksi etanol nasional. Saat ini, potensi produksi etanol di Indonesia diperkirakan mencapai 150 ribu hingga 300 ribu kiloliter per tahun, terutama di wilayah timur seperti Papua.
“Pak Menteri malah mendorong supaya kapasitasnya ditingkatkan lagi,” ungkap Eniya.
Sebagai perbandingan, beberapa negara telah lebih dulu menerapkan kebijakan bahan bakar ramah lingkungan berbasis etanol.
