“Anak yang kuat secara akademik belum tentu mau berorganisasi, dan aktivis sering kali tertinggal di akademik. Keduanya harus berjalan seimbang. FLC hadir untuk menyiapkan keseimbangan itu,” jelasnya dalam keterangannya, diterima Kamis (30/10/25).
FLC 2025 menggunakan pendekatan experiential learning, di mana para peserta tidak hanya belajar teori kepemimpinan, tetapi juga mempraktikkannya dalam dinamika kelompok, studi kasus, dan simulasi kepemimpinan.
Sebanyak 60 peserta terpilih dari DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten mengikuti FLC Regional I tahun ini. Mereka adalah mahasiswa yang lolos seleksi ketat, terdiri dari pengurus BEM universitas dan organisasi ekstra kampus.
Dalam sesi diskusi, beberapa peserta mengaku program ini menjadi pengalaman yang membuka mata. “Kami diajak berpikir besar, tapi juga diajarkan untuk tetap berpijak pada realitas sosial,” ujar salah satu peserta dari Universitas Padjadjaran.
Brian menambahkan, semangat yang ditanamkan dalam FLC adalah agar para pemuda memiliki visi global, namun berakar kuat pada nasionalisme. Ia mencontohkan negara-negara seperti Jepang, Korea, dan Amerika Serikat yang kemajuannya lahir dari mimpi besar generasi mudanya.
