Ia menegaskan, kesuksesan “Jumbo” bukan hanya dari sisi box office, tapi juga dari kemampuannya membangun percakapan global melalui narasi lokal yang kuat.
Data SurV yang dipaparkan Lokadata.id dalam kesempatan yang sama menunjukkan minat anak muda terhadap film di Indonesia cukup tinggi. Sebanyak 57 persen anak muda mengaku rutin menonton di bioskop 5 persen seminggu sekali, 15 persen sebulan sekali, dan 37 persen jika ada film yang ramai dibicarakan.
Meski film horor masih jadi primadona (55%), genre animasi dan drama ternyata sama-sama digemari, masing-masing mencapai 17 persen.
Angga menambahkan, Visinema tidak ingin berhenti hanya pada satu film. “Jumbo” dirancang sebagai IP (intellectual property) jangka panjang yang bisa dikembangkan menjadi serial, musik, hingga merchandise.
“Yang penting bukan hanya mengikuti tren, tapi membangun cerita yang punya napas panjang. Kami percaya film bukan sekadar produk akhir, tapi medium untuk mendistribusikan cerita,” tegasnya.
Dengan pencapaian ini, “Jumbo” bukan hanya menjadi kebanggaan industri film nasional, tetapi juga simbol bahwa cerita lokal dengan sentuhan universal bisa menembus batas dunia.(Vinolla)
