“Saya bilang waktu ke China tiga bulan lalu, oke, tapi tinggal nunggu keppres. Kemarin saya sudah bilang sama Pak Rosan, saya bilang, ‘Rosan, segera saja bikin itu (tim). Orangnya ini, ini, ini. Bikin keppres-nya’. Ya, dia (Rosan) bilang ‘saya bicara presiden’,” ujar Luhut.
Luhut juga menepis anggapan bahwa restrukturisasi utang Whoosh akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ia menegaskan tidak pernah ada permintaan agar dana APBN digunakan untuk melunasi utang proyek tersebut.
“Kita ribut soal Whoosh. Whoosh itu masalahnya apa sih? Whoosh itu kan tinggal restructuring (restrukturisasi utang) saja. Siapa yang minta APBN? Tak ada yang pernah minta APBN (membayar utang Whoosh),” tegasnya.
Pemerintah China melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun menyatakan pihaknya terus berkoordinasi erat dengan Indonesia terkait pengelolaan proyek kereta cepat, termasuk dalam penilaian investasi dan potensi ekonominya.
“Perlu ditegaskan ketika menilai proyek kereta api cepat, selain angka-angka keuangan dan indikator ekonomi, manfaat publik dan imbal hasil komprehensifnya juga harus dipertimbangkan. Otoritas dan perusahaan yang berwenang dari kedua belah pihak telah menjalin koordinasi yang erat untuk memberikan dukungan yang kuat bagi pengoperasian kereta api yang aman dan stabil,” kata Guo dalam keterangan resmi, Senin (20/10), seperti dikutip dari situs resmi pemerintah China.
