“Alhamdulillah saya bisa menguasai diri ketika lomba berlangsung. Babak penyisihan menurut saya lebih mudah karena pertanyaannya seputar ushul fiqh. Tetapi di final saya cukup kaget ketika dewan juri meminta penjelasan tentang tathbiq (penerapan) fikih di realitas perbankan. Ketika kebingungan, saya melirik pendamping, melihat beliau mengangguk-angguk, itu membuat saya kembali percaya diri,” tutur Habib.
Sebagai Juara I cabang Fikih, Habib menerima medali, plakat penghargaan, dan uang pembinaan. Namun, baginya, penghargaan terbesar adalah kesempatan memperluas wawasan, mempererat silaturahim, dan menjalin persaudaraan dengan santri dari berbagai negara. Selain itu, suka cita juga dirasakan Habib karena dapat membuat orang tua dan para gurunya bangga.
“Saya sudah mondok di berbagai pesantren, dari Riau hingga Tebuireng. Ketika saya berhasil menjadi juara MQK Internasional, saya bahagia karena membuat mereka bangga,” kata Habib.
Atas prestasinya, Habib mendapat apresiasi dari para dosen dan Mudir Ma’had Aly. Ia menilai bahwa penyelenggaraan MQK Internasional ini dapat menjadi perantara yang baik agar kajian kutubut turats khas pesantren yang mendetail dapat mendunia. Melalui adanya perlombaan antar-negara, negara di luar Indonesia akan berusaha menguasai dan menerapkan kajian turats model Indonesia. (ahmad)
