“Masuknya Indonesia ke dalam BRICS menjadi simbol bahwa negeri ini tak lagi sekadar penonton, tapi pemain dalam peta kekuatan global,” kata Adjie.
“Dalam persepsi publik, Prabowo bukan hanya Presiden Nasional, tapi figur global pemimpin yang buat Indonesia kembali disegani,” tambahnya.
Namun, lanjut Adjie, di bawah gemerlap diplomasi, ekonomi menjadi bayangan panjang. Dengan skor (13,8), aspek ekonomi menjadi satu-satunya (rapor) yang merah.
Lebih banyak rakyat menilai hidup mereka “buruk” daripada “baik”. Lapangan kerja semakin sulit (skor 46,9), daya beli menurun (skor 50). Di warung, Ibu-Ibu menawar dengan suara pelan, di pabrik, buruh cemas akan pemutusan kerja.
“Disinilah tampak jurang antara narasi makro yang disiarkan pemerintah dan realitas mikro dirasakan rakyat. Pertumbuhan ekonomi mungkin stabil di atas kertas, tapi di meja makan rakyat, piringnya tetap sama, nasi, sambal, dan harapan menipis,” tukasnya.
Survei pun menunjukkan tingkat kepuasan terhadap Prabowo masih tinggi (74,8 persen). Namun, angka itu mulai fluktuatif, naik di semester pertama, lalu menurun di Oktober.
